Unknown
Sabtu, September 21, 2013

JAKARTA - Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI)
Retno Listyarti membeberkan berbagai permasalahan dalam buku Kurikulum
2013 yang dibagikan pemerintah di sekolah yang menjalankan kurikulum
tersebut.
Ditegaskannya, dari hasil diskusi terbatas praktisi,
guru dan pengamat pendidikan dengan Dewan Pertimbangan Presiden
(Wantimpres) yang berlangsung tertutup kemarin, ada beberapa yang jadi
sorotan, salah satunya terjadi salah kaprah pemaknaan seni budaya oleh
penyusun buku kurikulum 2013.
"Kemudian ternyata bukan hanya buku Seni dan Budaya kelas VII (SMP saja
yang bermasalah, buku bahasa Indonesia kelas VII (SMP) juga sama, yaitu
memuat cerpen 'Gerhana' karya Muhamad Ali yang tak cocok dijadikan bahan
ajar siswa SMP," kata Retno kepada JPNN, Jumat (6/9) pagi.
Terkait buku seni budaya yang dikupas oleh Dekan Fakultas Ilmu Bahasa
UI, Prof. Bambang di hadapan Wantimpres bidang pendidikan dan
kebudayaan, Meutia Hatta. Ditegaskan Retno, Prof Bambang menyatakan
terjadi penyempitan makna budaya di buku pelajaran Bahasa Indonesia
Bahkan isi buku tersebut lebih tepat sebagai buku pelajaran kesenian.
Karena makna budaya lebih direduksi pada kesenian. Padahal budaya
menyangkut aspek yang sangat luas, tidak hanya budaya materiak, atau
kesenian tapu juga mencakup nilai-nilai (values).
"Jadi
penyusun buku hanya memaknai budayaa sebagai seni dan tari-tarianan,
budaya sebatas pengetahuan bukan perilaku. Jadi sangat bahaya jika
kemudian kebudayaan hanya diartikan sebagai kesenian, atau penekanannya
pada kesenian," ujar Retno.
Nah, terkait cerpen Gerhana dalam
buku teks Bahasa Indonesia kelas VII SMP, menurut Retno sangat tidak
cocok digunakan sebagai bahan ajar kelas VII bahkan juga kelas XII (SMA)
karena berisi kata cacian dan makiana. Bukan cerpennya yang salah
tetapi penulis buku yang tidak tepat memilih bahan bacaan.
"Cerpen sebagai bahan bacaan harus dipilih berdasarkan relasi antara
cerita dengan pembacanya, faktor usia tentu juga harus menjadi
pertimbangan," ulasnya.
Selain kata kata-kata makian seperti
bajingan, bangsat, dan kurang ajar, tetapi masih banyak kata kasar
lainnya, seperti "Beberapa buah pepaya yang sudah ranum dilihatnya
tertimpa batangnya yang gemuk itu hingga lumat berlepotan serupa
tempurung kepala bayi-bayi yang remuk ditimpa penggada raksasa".
Kemudian "Getahnya yang meleleh menetes-netes, di matanya persis darah
segar kental, mengingatkannya pada cerita-cerita penyembelihan yang
mengerikan. Serta, “Tengok,” kata Sali, “Tengoklah ini ada bekas
bacokan.” Lalu dirabanya bagian itu. “Jadi telah dibacok dengan parang".
"Kata-kata yang muncul dalam cerpen tersebut tidaklah pantas menjadi
bacaan siswa kelas VII, kalau Kemendikbud berkilah bahwa anak-anak juga
harus diajarkan karakter buruk sebagai contoh ada dalam kehidupan
sehari-hari maka alasan ini sangat tak mendasar," pungkasnya.(Fat/jpnn)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar